Surat Al Fajr termasuk golongan Surat Makiyyah/Madaniyyah yang terdiri dari 30 ayat.
Tafsir Jalalain Al Fajr
Berikut ini adalah tafsir Surat Al Fajr per ayat. Kita mulai dengan tafsir surat Al Fajr ayat 1-15.
وَالْفَجْرِ
Demi fajar, yakni fajar yang terbit setiap hari.
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
dan malam yang sepuluh, maksudnya tanggal sepuluh bulan Zulhijah.
وَالشَّفْع
Dan yang genap, atau tidak ganjil
وَالْوَتْر
dan yang ganjil, dapat dibaca dengan fathah wau (Al-Watr) dan kasrah (Al-Witr), artinya ganjil.
وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ
dan malam bila berlalu, bila datang dan pergi.
هَلْ فِي ذَلِكَ
Pada yang demikian itu, yakni sumpah itu
قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ
terdapat sumpah bagi orang-orang yang berakal.
Jawab dari Qasam tidak dibuang yakni : لَتُعَذَّبُنَّ يَا كفار مكة "sungguh kalian hai orang-orang kafir Mekah akan diazab".
أَلَمْ تَرَ
Apakah kamu tidak memperhatikan, artinya tidak mengetahui hai Muhammad
كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ إِرَمَ
tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?. Yakni penduduk Iram
Iram adalah nama kaum ‘Ad dahulu. Lafadz إِرَم sebagai ‘Athaf Bayan atau Badal, tidak menerima Tanwin karena ‘Illat ‘Alamiyah dan Mu’annats.
ذَاتِ الْعِمَادِ
yang mempunyai tubuh-tubuh yang tinggi, atau mereka adalah orang-orang yang tinggi tubuhnya, tersebutlah yang paling tinggi di antara mereka mencapai empat ratus hasta.
الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ
Yang belum pernah diciptakan sepertinya di negeri-negeri lain, dalam hal kekuatan dan keperkasaannya.
وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا
dan kaum Tsamud yang memotong, maksudnya memahat
الصَّخْرَ
batu-batu besar
Lafadz jamaknya adalah صَخْرَة. Kemudian batu-batu besar itu dijadikan sebagai rumah tempat tinggal mereka
بِالْوَادِ
di lembah, yakni وَادِي الْقُرَى namanya.
وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ
dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak
Ia dikenal dengan julukan tersebut, bila menyiksa seseorang ia membuat empat pasak, kemudian kedua tangan dan kedua kaki orang yang disiksanya itu diikatkan pada masing-masing pasak.
الَّذِينَ طَغَوْا
Yang berbuat sewenang-wenang, maksudnya berbuat angkara murka
فِي الْبِلَادِ فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ
dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, dengan melakukan pembunuhan dan kelaliman lainnya.
فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ
Karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti, sejenis
عَذَابٍ
azab.
Tafsir surat Al Fajr ayat 14
إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ
Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi, semua amal perbuatan hamba-hamba-Nya, maka tiada sesuatu pun yang terlewat dari-Nya di antara amal-amal perbuatan itu, supaya Dia membalasnya kepada mereka.
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ
Adapun manusia, maksudnya orang kafir
إِذَا مَا ابْتَلَاهُ
apabila mengujinya, dikenakan ujian
رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ
oleh Rabbnya lalu dimuliakan-Nya, dengan harta benda dan lain-lainnya
وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ
dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Rabbku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi, atau menyempitkan
عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.
كَلَّا
Sekali-kali tidak (demikian).
Kalimat ini merupakan hardikan, bahwa bukanlah dimuliakan itu dengan diberi kekayaan, dan dihina itu dengan diberi kemiskinan. Sesungguhnya seseorang itu menjadi mulia karena ketaatannya, dan menjadi terhina karena kemaksiatannya. Orang-orang kafir Mekah tidak memperhatikan hal ini
بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ
sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim, artinya kalian tidak pernah berbuat baik kepada anak-anak yatim, padahal kalian kaya atau kalian tidak memberikan harta waris yang menjadi hak anak-anak yatim.
وَلَا تَحَاضُّونَ
Dan kalian tidak mengajak, diri kalian atau orang lain
عَلَى طَعَامِ
memberi makan, makanan
الْمِسْكِينِ
orang miskin.
وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ
Dan kalian memakan harta pusaka, harta peninggalan
أَكْلًا لَمًّا
dengan cara mencampur-aduk, tanpa segan-segan lagi, maksudnya kalian mencampur-baurkan harta warisan bagian wanita dan anak-anak dengan bagian kalian; atau kalian mencampur-baurkan harta warisan mereka dengan harta kalian sendiri.
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan, sehingga kalian tidak menafkahkannya. Menurut suatu qiraat, maka memakai ya pada fiil yang empat (aitu Laa Tukrimuuna, Laa Tahaadhdhuuna, Ta’kuluuna, dan Tuhibbuuna, dibaca Laa Yukrimuuna, Laa Yahaadhdhuuna, Ya’kuluuna, dan Yuhibbuuna).
كَلَّا
Jangan berbuat demikian.
Lafadz ini adalah kalimat cegahan supaya jangan melakukan hal-hal tersebut.
إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا
Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, artinya secara terus-menerus sehingga hancur musnahlah semua bangunan-bangunan yang ada di permukaannya.
Tafsir surat Al Fajr ayat 22
وَجَاءَ رَبُّكَ
dan datanglah Tuhanmu, yakni perintah-Nya
وَالْمَلَكُ
dan para malaikat
صَفًّا صَفًّا
berbaris-baris.
Lafadz ini berkedudukan menjadi Hal (kata keterangan keadaan), yakni berbaris-baris atau membentuk barisan-barisan yang banyak.
وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ
Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, ditarik dengan memakai tujuh puluh ribu kendali, yang pada tiap-tiap kendali dipegang oleh tujuh puluh ribu malaikat. Neraka Jahanam terdengar gejolak dan gemuruhnya
يَوْمَئِذٍ
dan pada hari itu, kata ini menjadi Badal dari lafal إِذَا dan Jawabnya
يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ
ingatlah manusia, maksudnya orang kafir ingat kepada apa yang telah dilalaikannya
وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى
akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.
Istifham ini bermakna Nafi, artinya penyesalannya pada saat itu tidak ada gunanya lagi.
يَقُولُ
Dia mengatakan, sewaktu ingat akan kesalahan-kesalahannya
يَا
Alangkah baiknya, huruf Ya di sini bermakna Tanbih
لَيْتَنِي قَدَّمْتُ
kiranya aku dahulu mengerjakan, amal kebaikan dan beriman
لِحَيَاتِي
untuk hidupku ini, untuk kehidupan yang baik di akhirat, atau sewaktu aku hidup di dunia
فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ
Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa, dibaca dengan dikasrahkan huruf Dzalnya
عَذَابَهُ
dengan siksa-Nya, seperti azab Allah
أَحَدٌ
seseorang pun, artinya Dia tidak menyerahkannya kepada seseorang pun melainkan hanya kepada diri-Nya.
وَ
Dan, demikian pula
لَا يُوثِقُ
tiada yang dapat mengikat, dibaca dengan kasrah tsa
وَثَاقَهُ أَحَدٌ
seperti ikatannya, seseorang pun
Menurut suatu qiraat, difatahkandzalnya (Laa Yu’adzdzabu) dan difatahkan tsanya (Laa Yuutsaqu). Dengan demikian maka Dhamir yang dikandung kedua lafal tersebut kembali kepada orang kafir. Lengkapnya, tiada seseorang pun yang diazab seperti azab yang ditimpakan kepada orang kafir, dan tiada seseorang pun yang diikat seperti ikatan yang dibelenggukan kepada orang kafir.
يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
Hai jiwa yang tenang, atau yang aman, dimaksud adalah jiwa yang beriman.
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ
Kembalilah kepada Tuhanmu.
Perkataan ini diucapkan kepadanya sewaktu ia menjelang mati; yakni kembalilah kamu kepada perintah dan kehendak-Nya
رَاضِيَةً
dengan hati yang puas, akan pahala yang kamu terima
مَرْضِيَّةً
lagi diridhai-Nya, di sisi Allah, maksudnya semua amal perbuatanmu diridai di sisi-Nya. Jiwa yang beriman itu merasa puas dan diridai. Kedudukan kedua lafal ini menjadi kata keterangan keadaan. Kemudian dikatakan kepadanya pada hari kiamat nanti:
فَادْخُلِي فِي
Maka masuklah ke dalam jamaah
عِبَادِي
hamba-hamba-Ku yang saleh.
وَادْخُلِي جَنَّتِي
masuklah ke dalam surga-Ku bersama dengan hamba-hamba-Ku yang saleh.
Artikel yang terkait dengan Tafsir Jalalain Al Fajr
- isi kandungan surat al fajr ayat 1-30
- keutamaan surat al fajr
- tadabbur surah al fajr
Sumber :
Tafsir Jalalain, hal 499 - 500
Tafsir Jalalain Al Fajr
Berikut ini adalah tafsir Surat Al Fajr per ayat. Kita mulai dengan tafsir surat Al Fajr ayat 1-15.
وَالْفَجْرِ
Demi fajar, yakni fajar yang terbit setiap hari.
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
dan malam yang sepuluh, maksudnya tanggal sepuluh bulan Zulhijah.
وَالشَّفْع
Dan yang genap, atau tidak ganjil
وَالْوَتْر
dan yang ganjil, dapat dibaca dengan fathah wau (Al-Watr) dan kasrah (Al-Witr), artinya ganjil.
وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ
dan malam bila berlalu, bila datang dan pergi.
هَلْ فِي ذَلِكَ
Pada yang demikian itu, yakni sumpah itu
قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ
terdapat sumpah bagi orang-orang yang berakal.
Jawab dari Qasam tidak dibuang yakni : لَتُعَذَّبُنَّ يَا كفار مكة "sungguh kalian hai orang-orang kafir Mekah akan diazab".
أَلَمْ تَرَ
Apakah kamu tidak memperhatikan, artinya tidak mengetahui hai Muhammad
كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ إِرَمَ
tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?. Yakni penduduk Iram
Iram adalah nama kaum ‘Ad dahulu. Lafadz إِرَم sebagai ‘Athaf Bayan atau Badal, tidak menerima Tanwin karena ‘Illat ‘Alamiyah dan Mu’annats.
ذَاتِ الْعِمَادِ
yang mempunyai tubuh-tubuh yang tinggi, atau mereka adalah orang-orang yang tinggi tubuhnya, tersebutlah yang paling tinggi di antara mereka mencapai empat ratus hasta.
Yang belum pernah diciptakan sepertinya di negeri-negeri lain, dalam hal kekuatan dan keperkasaannya.
وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا
dan kaum Tsamud yang memotong, maksudnya memahat
الصَّخْرَ
batu-batu besar
Lafadz jamaknya adalah صَخْرَة. Kemudian batu-batu besar itu dijadikan sebagai rumah tempat tinggal mereka
بِالْوَادِ
di lembah, yakni وَادِي الْقُرَى namanya.
وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ
dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak
Ia dikenal dengan julukan tersebut, bila menyiksa seseorang ia membuat empat pasak, kemudian kedua tangan dan kedua kaki orang yang disiksanya itu diikatkan pada masing-masing pasak.
الَّذِينَ طَغَوْا
Yang berbuat sewenang-wenang, maksudnya berbuat angkara murka
فِي الْبِلَادِ فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ
dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, dengan melakukan pembunuhan dan kelaliman lainnya.
فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ
Karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti, sejenis
عَذَابٍ
azab.
Tafsir surat Al Fajr ayat 14
إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ
Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi, semua amal perbuatan hamba-hamba-Nya, maka tiada sesuatu pun yang terlewat dari-Nya di antara amal-amal perbuatan itu, supaya Dia membalasnya kepada mereka.
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ
Adapun manusia, maksudnya orang kafir
إِذَا مَا ابْتَلَاهُ
apabila mengujinya, dikenakan ujian
رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ
oleh Rabbnya lalu dimuliakan-Nya, dengan harta benda dan lain-lainnya
وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ
dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Rabbku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi, atau menyempitkan
عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.
كَلَّا
Sekali-kali tidak (demikian).
Kalimat ini merupakan hardikan, bahwa bukanlah dimuliakan itu dengan diberi kekayaan, dan dihina itu dengan diberi kemiskinan. Sesungguhnya seseorang itu menjadi mulia karena ketaatannya, dan menjadi terhina karena kemaksiatannya. Orang-orang kafir Mekah tidak memperhatikan hal ini
بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ
sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim, artinya kalian tidak pernah berbuat baik kepada anak-anak yatim, padahal kalian kaya atau kalian tidak memberikan harta waris yang menjadi hak anak-anak yatim.
وَلَا تَحَاضُّونَ
Dan kalian tidak mengajak, diri kalian atau orang lain
عَلَى طَعَامِ
memberi makan, makanan
الْمِسْكِينِ
orang miskin.
وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ
Dan kalian memakan harta pusaka, harta peninggalan
أَكْلًا لَمًّا
dengan cara mencampur-aduk, tanpa segan-segan lagi, maksudnya kalian mencampur-baurkan harta warisan bagian wanita dan anak-anak dengan bagian kalian; atau kalian mencampur-baurkan harta warisan mereka dengan harta kalian sendiri.
dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan, sehingga kalian tidak menafkahkannya. Menurut suatu qiraat, maka memakai ya pada fiil yang empat (aitu Laa Tukrimuuna, Laa Tahaadhdhuuna, Ta’kuluuna, dan Tuhibbuuna, dibaca Laa Yukrimuuna, Laa Yahaadhdhuuna, Ya’kuluuna, dan Yuhibbuuna).
كَلَّا
Jangan berbuat demikian.
Lafadz ini adalah kalimat cegahan supaya jangan melakukan hal-hal tersebut.
إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا
Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, artinya secara terus-menerus sehingga hancur musnahlah semua bangunan-bangunan yang ada di permukaannya.
Tafsir surat Al Fajr ayat 22
وَجَاءَ رَبُّكَ
dan datanglah Tuhanmu, yakni perintah-Nya
وَالْمَلَكُ
dan para malaikat
صَفًّا صَفًّا
berbaris-baris.
Lafadz ini berkedudukan menjadi Hal (kata keterangan keadaan), yakni berbaris-baris atau membentuk barisan-barisan yang banyak.
وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ
Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, ditarik dengan memakai tujuh puluh ribu kendali, yang pada tiap-tiap kendali dipegang oleh tujuh puluh ribu malaikat. Neraka Jahanam terdengar gejolak dan gemuruhnya
يَوْمَئِذٍ
dan pada hari itu, kata ini menjadi Badal dari lafal إِذَا dan Jawabnya
يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ
ingatlah manusia, maksudnya orang kafir ingat kepada apa yang telah dilalaikannya
وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى
akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.
Istifham ini bermakna Nafi, artinya penyesalannya pada saat itu tidak ada gunanya lagi.
يَقُولُ
Dia mengatakan, sewaktu ingat akan kesalahan-kesalahannya
يَا
Alangkah baiknya, huruf Ya di sini bermakna Tanbih
لَيْتَنِي قَدَّمْتُ
kiranya aku dahulu mengerjakan, amal kebaikan dan beriman
لِحَيَاتِي
untuk hidupku ini, untuk kehidupan yang baik di akhirat, atau sewaktu aku hidup di dunia
فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ
Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa, dibaca dengan dikasrahkan huruf Dzalnya
عَذَابَهُ
dengan siksa-Nya, seperti azab Allah
أَحَدٌ
seseorang pun, artinya Dia tidak menyerahkannya kepada seseorang pun melainkan hanya kepada diri-Nya.
وَ
Dan, demikian pula
لَا يُوثِقُ
tiada yang dapat mengikat, dibaca dengan kasrah tsa
وَثَاقَهُ أَحَدٌ
seperti ikatannya, seseorang pun
Menurut suatu qiraat, difatahkandzalnya (Laa Yu’adzdzabu) dan difatahkan tsanya (Laa Yuutsaqu). Dengan demikian maka Dhamir yang dikandung kedua lafal tersebut kembali kepada orang kafir. Lengkapnya, tiada seseorang pun yang diazab seperti azab yang ditimpakan kepada orang kafir, dan tiada seseorang pun yang diikat seperti ikatan yang dibelenggukan kepada orang kafir.
يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
Hai jiwa yang tenang, atau yang aman, dimaksud adalah jiwa yang beriman.
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ
Kembalilah kepada Tuhanmu.
Perkataan ini diucapkan kepadanya sewaktu ia menjelang mati; yakni kembalilah kamu kepada perintah dan kehendak-Nya
رَاضِيَةً
dengan hati yang puas, akan pahala yang kamu terima
مَرْضِيَّةً
lagi diridhai-Nya, di sisi Allah, maksudnya semua amal perbuatanmu diridai di sisi-Nya. Jiwa yang beriman itu merasa puas dan diridai. Kedudukan kedua lafal ini menjadi kata keterangan keadaan. Kemudian dikatakan kepadanya pada hari kiamat nanti:
فَادْخُلِي فِي
Maka masuklah ke dalam jamaah
عِبَادِي
hamba-hamba-Ku yang saleh.
وَادْخُلِي جَنَّتِي
masuklah ke dalam surga-Ku bersama dengan hamba-hamba-Ku yang saleh.
Artikel yang terkait dengan Tafsir Jalalain Al Fajr
- isi kandungan surat al fajr ayat 1-30
- keutamaan surat al fajr
- tadabbur surah al fajr
Sumber :
Tafsir Jalalain, hal 499 - 500
Tag :
tafsir jalalain al fajr
0 Komentar untuk "Tafsir Jalalain Al Fajr"